Hari mulai bergerak malam, lelaki itu selalu datang dihari selasa, rabu dan jum'at letika sore mulai memasuki gelap.
Duduk dikursi yang sama disudut yang paling temaram asyik dengan dunia catur di laptopnya.
Usianya diakhir 30-an menurut tebakanku, ada sedikit kerut di ujung kedua matanya. Berperawakan tinggi besar, berkulit putih, mata sedikit sipit, berkacamata, tangan dan dadanya berbulu lebat ketika tanpa sengaja kancing disekitar dadanya terlepas. sepintas wajahnya mirip Richard Gere.....
Lelaki itu hanya memesan secangkir kopi beraroma kayumanis dan beberapa potong pisang goreng yang dinikmatinya selama berjam-jam. sendiri.
Aku tak pernah berusaha menyapanya, lelaki itu pun tak berusaha ramah padaku. Tapi sore ini entah mengapa aku menghampirinya.....wajahnya tampak sendu, terduduk sendiri, melamun tanpa catur di laptopnya.
Lelaki itu tersenyum dan menunjuk kursi didepan dengan dagunya yang tampak biru sisa cukuran baru. Dari dekat wajahnya tampak lebih tampan, sedikit gingsul di deretan gigi bawahnya.
" Tumben tidak bercatur. " sapaku memecah sunyi.
" lagi bosan, pusing kepalaku melihat bidak-bidak itu di layar."
" bisnisnya lancar ?"
" Ah....bisnis sekarang ini membingungkan, kalau tidak hati-hati bisa banyak merugi. Eiyh....kau potong rambuk ya?" senyum mengembang dari bibirnya yang tampak serasi dengan wajahnya yang tampan.
Pipiku seakan terbakar, ah...tak sangka dia memperhatikan sedikit perubahanku.
Aku hanya tersenyum malu sambil mempermainkan taplak bermotif kotak-kotak diatas meja.
Obrolan kami melebar semakin jauh, dia bercerita tentang kegagalannya menjadi seorang legislatif, dana yang sudah terhambur banyak, kerepotan yang disebabkan partainya, kebenciannya pada karet gelang, tentang gaya hidupnya yang sehat, ketidaksukaannya pada daging merah, tentang ibunya, kakak perempuannya yang seorang dokter, keponakannya, perceraiannya 3th lalu............dan kekurangannya.
Aku menilainya lelaki yang sangat perfeksionis.
" Kau punya pacar ?" tanyanya , aku menggelang dengan senyum rahasia.
" Pernah menikah? " aku kembali menggelang.
" Pernah bersetubuh? " Aku hampir jatuh merosot ke lantai mendengarnya, kujawab dengan mengangkat bahu.
" Pernah mendengar lelaki tanpa kejantanan? " aku menatapnya tak mengerti.
" Aku hampir memiliki semua yang aku mau, kau lihat aku tampan, bisnisku lumayan, tapi aku tak bisa mendekati perempuan manapun." matanya menerawang....sampai disini aku mulai mengerti.
" Pernah berobat? " tanyaku.
" Percuma, terapi itu harus dengan pasangan. Sedangkan aku tak pernah berniat mencari pasangan, aku tak suka direndahkan, apalagi oleh pasangan."
" Dengan perempuan bayaran ?"
" Ah...mereka tidak higienis, harus keluar uang banyak pula."
" Aku percaya ada banyak perempuan yang mau melakukan apapun untukmu, kau begitu tampan pasti banyak yang tergila-gila."
" Tetap saja aku tak mau mereka tahu kelemahanku, aku terbiasa memimpin di perusahaanku, terbiasa dituruti semua keinginan oleh ibu & kakak perempuanku, seleraku sangat mahal aku tak suka perempuan dengan fisik biasa-biasa saja."
Hmmm............aku hanya bisa menghela nafas.
" Coba saja dengan perempuan biasa yang tidak banyak menuntut" usulku.
" kau mau? "dia balik bertanya, aku tersenyum hambar.
" Nanti aku carikan ya " tawarku.
"Bagaimana kalau perempuan itu kecewa, aku tak pernah bisa memuaskan mereka hanya akan menambah beban dan sakit hati."
" Kau masih punya lidah dan jari " Senyumku hampir meledak tapi tertahan.
" Asal kau tahu aku tidak suka berciuman, sangat tidak terbiasa merasakan ludah orang lain membasahi rongga mulutku, membayangkannya saja aku jijik " lelaki itu mengernyitkan hidungnya yang bangir.
Pppuuih..................sulit sekali lelaki tampan ini menikmati hidupnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar